21 September 2013

Bukan Hatta Rajasa ataupun Ahmad Dhani

Diposting oleh Ayu Wulandini di 21.9.13 0 komentar
Beberapa minggu ini, saya sedang melaksanakan kebiasaan yang baru, pulang-pergi ke kampus dengan menyetir mobil sendiri. Tidak ada lagi acara menginap di kontrakan seperti semester-semester terdahulu.

Sayangnya, awal tahun ini pun Indonesia sedang heboh dengan beberapa kecelakaan mobil, diantaranya ada kecelakaan yang melibatkan putra dari Hatta Radjasa dan yang terbaru, putra dari Ahmad Dhani.

Hal ini membuat saya semakin mawas diri dalam berkendara, lebih berhati-hati dalam mengendalikan kemudi dan selalu memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik.

Ketika kasus putra dari Hatta Radjasa dan putra dari Ahmad Dhani terjadi, terlihat suatu pola yang sama. Orang tua pelaku tersebut menberikan jaminan kepada keluarga korban akan menanggung biaya pendidikan untuk anak-anak korban.












Karena papi saya tidak se-menteri Hatta Radjasa dan se-artis Ahmad Dhani,
saya harus lebih berhati-hati dalam berkemudi
»»  Read More...

20 September 2013

Heboh Mobil Murah

Diposting oleh Ayu Wulandini di 20.9.13 2 komentar
Beberapa waktu yang lalu perusahaan-perusahaan mobil sedang gencar-gencarnya mengampanyekan LCGC (Low Cost Green Car) alias mobil murah yang ramah lingkungan. Sebagai seorang teknik lingkungan, saya pun meragukan ke"ramah lingkungan"nya.

Saya cukup tertarik dengan sebuah kotak dialog dalam sebuah artikel di Kompas pagi ini (20/9)

Cuma bisa mesem-mesem sendiri melihatnya,


Padahal, beberapa hari sebelum hari ini, dari sebuah grup obrol, teman saya membagikan gambar ini.

Hayo, mau sampai kapan nih Indonesia mau jadi negara berkembang (developing) melulu..
Yuk, segerakan Indonesia jadi negara maju (developed)


Dan status facebook seseorang tentang mobil murah inipun cukup membuat saya tersenyum,


Indonesia Unik, ya?


»»  Read More...

19 September 2013

Cukup Cerdaskah?

Diposting oleh Ayu Wulandini di 19.9.13 0 komentar

Setelah sekian lama saya mengamati kehidupan sekitar, terkadang saya merasa miris tentang tingkat kecerdasan orang-orang di Negeri ini, khususnya masyarakat Jadebotabek. Cerdas loh ya, bukan pinter.

Saya terbiasa mendengar opini tentang betapa pentingnya pendidikan dan biasanya berujung pada manfaat untuk bangsa dan negara. Terdengar sangat bagus, namun ternyata cukup abstrak untuk diterapkan.

Seberapa penting sih pendidikan itu? Manfaat seperti apa yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara?
Terkesan WOW banget ya..

Sepengamatan saya, pendidikan di Indonesia (sejauh yang saya terima selama ini) masih berbasis calistung (baca, tulis, hitung) dan berbasis keuntungan (berapa banyak gaji yang bisa didapat). Dan saya pun masih belum menemukan manfaat apa yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara.

Sepertinya benar, negara ini kekurangan pendidikan karakter. Sehingga sampai saat ini banyak orang pintar, namun kurang cerdas dalam bertingkah laku. Entah siapa yang bertanggung jawab atas ini. Para guru kah? Para orang tua? atau mungkin pemerintah?

Bahkan dalam hal yang sangat kecil dan (seharusnya) fundamental-membuang sampah pada tempatnya-sangat sulit untuk diterapkan.

Banyak hal miris yang bisa ditemui di sekitar kita:

Anda mungkin sering menemukan mobil-mobil bagus yang dikendarai dengan jendela mobil terbuka, karena manusia-manusia di dalamnya sedang asik menikmati berbatang-batang rokok. Bahkan akhirnya, puntung rokok tersebut dilempar begitu saja ke jalan yang sedang dilewatinya. Saya pun langsung teringat para tukang becak, tukang gerobak dan tukang-tukang lainnya. Mereka juga suka melakukan hal itu sih. Tapi, sepertinya penumpang di dalam mobil itu lebih berpendidikan dibandingkan para tukang yang saya sebutkan tadi.

atau...

Mungkin anda juga bisa menemukan mobil yang sedang dikendarai, tiba-tiba menepi sebentar hanya untuk membuang sampah ke pinggir jalan melalui jendela mobilnya. Parahnya, sampah yang dibuang pun bukan sembarangan sampah. Sampah tersebut merupakan sebuah dus bekas kemasan donat yang terkenal dengan harganya yang cukup mahal. Bayangkan deh, orang yang mampu mengendarai mobil dan mengonsumsi makanan yang terkenal mahal itu, kayanya agak sulit untuk dikategorikan sebagai orang tidak berpendidikan.

Aneh kan ya?
Mereka sebenarnya berpendidikan, tapi sayangnya kurang cerdas dalam menjalani kehidupannya. Bahkan mereka pun tidak sadar bahwa perilaku mereka tersebut bisa menciptakan banjir. Jelas sekali mereka tidak terganggu dengan masalah banjir, bahkan saya tak yakin mereka merasakan gangguan akibat banjir. Mereka bisa membeli rumah yang bebas banjir kan?

Sayangnya, masyarakat kita masih banyak yang ego-sentris, memikirkan diri sendiri. Masih mempertimbangkan keuntungan yang bisa didapat untuk diri sendiri jika ingin melakukan sesuatu.

Bagaimana dengan kita?
Bagaimana kita menyikapi kejadian ini?
Cukup Cerdaskah?

»»  Read More...

18 September 2013

Belajar Berbaik Sangka

Diposting oleh Ayu Wulandini di 18.9.13 0 komentar
Peristiwa hari ini bener-bener menguji diri ini untuk berbaik sangka.

Berangkat lebih pagi dari biasanya, niatnya sih pengen ke PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa) dulu. Mau periksa gigi, karena udah lebih dari 6 bulan ga diperiksa. Setelah diberitahukan bahwa gigi masih dalam keadaan baik-baik saja, akhirnya saya pun berangkat ke fakultas.

Begitu sampai di fakultas dan tiba lebih awal daripada waktu kelas dimulai, saya pun duduk di samping kelas tersebut, sambil membuka-buka file pendukung perkuliahan, ataupun browsing info-info lainnya. Begitu kelas dimulai, dosen yang bersangkutan pun tak kunjung tiba. Sekitar satu jam setelah pelajaran seharusnya dimulai, ketua kelas pun baru memberi tahu kalau dosen tersebut tidak datang karena berada di Singapura. Namun ada file yang sedang dibawa oleh asisten dosen tersebut untuk menjadi bahan kuis minggu depan. Setelah file tersebut datang dan di-copy, akhirnya kelas pun bubar.

Sambil menunggu kelas selanjutnya, saya bersama yang lain berkumpul di lantai 4 departemen. Kelas selanjutnya dimulai jam 1. Sekitar jam setengah 1, Cut yang baru tiba pun memberitahu kalau kelas siang ini ditiadakan.


Ternyata, kemarin itu telah beredar informasi bahwa siang ini kelas ditiadakan. Entah kenapa, saat itu rasanya sangat sedih dan sebel. Bermacam pertanyaan dan prasangka pun muncul. Kenapa sih aku ga dikabarin? Ko tega banget sih ga dikabarin, aku kan PP. Kalo tau hari ini ga ada kelas, hari ini kan bisa di rumah aja, bantuin mami, atau ga ngerjain yang lainnya. Hemat bensin, ga bayar tol. Racauan sebanyak itu terus bermunculan di benakku. 

Hingga akhirnya aku berusaha untuk mengendalikannya dengan 'hmm, mungkin mereka mengira aku telah mendapatkan informasi dari yang lainnya'. dan akupun mulai menanyakan beberapa teman, baik yang seangkatan, anak S2 yang baru ataupun adik tingkat yang ambil mata kuliah tersebut. Menanyakan kenapa mereka tidak memberitahukan ketiadaan kelas saat itu, padahal beberapa dari mereka sudah bertemu denganku di kelas sebelumnya.

Jawabannya pun sesuai dengan prasangka ku yang terakhir. Mereka mengira aku telah mendapatkan informasi dari teman yang lain. Entah kenapa, semuanya kompak mengira seperti itu, hingga aku tidak mendapatkan informasi sama sekali. 

Namun, ini menyadarkanku akan pentingnya berbaik sangka loh. Yang jelas, berbaik sangka benar-benar bikin hati lebih tenang.

»»  Read More...

17 September 2013

Mahasiswa Baru, Suasana Baru

Diposting oleh Ayu Wulandini di 17.9.13 0 komentar
Awal September ini merupakan awal kehidupanku sebagai mahasiswi S2.
Gimana rasanya?

Well, awalnya aku meyakinkan semuanya akan baik-baik saja, dan Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan seharusnya. Walaupun euforia wisuda beberapa hari sebelumnya masih berasa, tema thesis pun sudah mengantri untuk segera difikirkan. Semuanya berlalu serasa secepat sebuah telapak tangan dibalikkan. Baru kemaren-kemaren nyantai, seneng-seneng wisudaan, sibuk ngurusin kelulusan, sekarang udah mesti ngurusin thesis pula. Rasanya sesuatu loh.

Kalo diibaratkan kendaraan, kemaren-kemaren tuh jalannya masih nyantai banget, jalanan pun serasa mulus 
banget. Sedangkan sekarang, kendaraan itu diminta untuk sampai di suatu tujuan, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, namun jalanan tidak semulus kemarin. Yaa, mau bagaimanapun juga, kendaraan itu harus tetap jalan, walaupun agak 'kaget' karena tiba-tiba harus dipacu kencang.

Setelah hampir 2 minggu berlalu, mungkin karena aku PP ke kampus, jadi berasa kupu-kupu deh, kuliah-pulang-kuliah-pulang. Yaa, paling datengnya yang lebih cepet untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tapi yang paling berasa berbeda itu, suasana kampusnya.

Terasa tenggelam dalam keramaian. Agak susah untuk menemukan teman barengan untuk makan, sholat atau sekedar ngobrol. Makan, hanya dengan seketemunya temen di kantin aja, dan biasanya itu adek tingkat, begitupun dengan sholat di mustek. Ga ada nih temen yang emang udah janjian via sms untuk makan bareng atau sholat bareng. Rasanya sedih deh. Aku kehilangan kalian :(

I miss you guys

Sampai kamis kemarin, Allah mengerti rasa sepi ini sudah terlalu senyap. Ketika tiba di mustek, aku dipertemukan dengan beberapa teman yang memang masih berkuliah saat ini. Aku bertemu Hanif (2012) yang sedang bersama maba TL yg interaksi, bertemu Wina (2011) yang sedang akan sholat, Ilma (2009) yang sepertinya habis mentoring dan Diah (2009) yang sedang tilawah. Ga kebayang betapa senangnya aku saat itu. 

Hari senin kemarin pun aku juga dipertemukan oleh Ape (2009) yang sedang melakukan kunjungan kampus (sayangnya belum sempat ngobrol lebih lama di Kursi Curhat lagi), Risa dan Enggar (2009) yang seharusnya aku bisa lebih sering bertemu, namun karena perbedaan jadwal, jadi tetap jarang bertemu.


Pertemuan-pertemuan itu memang tidak lama, tapi pertemuan-pertemuan itu sangat bisa mengangkat semangan ini lebih naik lagi. Bisa membuat bibir ini tersenyum lebih lama, mengingat begitu banyak memori yang muncul bersama dengan kehadiran mereka. Bisa membuat diri ini lebih bersyukur dengan pertemuan yang sangat singkat itu.


Bahagia itu memang sederhana,
sesederhana perjumpaan singkat kita yang terkadang hanya sempat berbagi senyum
»»  Read More...

15 September 2013

Lebih Baik

Diposting oleh Ayu Wulandini di 15.9.13 1 komentar
Udah lamaa banget ga nulis di blog ini..
Jika diibaratkan rumah, mungkin udah penuh sama sarang laba-laba, kecoa, semut, atau binatang-binatang lainnya.

Bukannya sombong, sehingga ga mau berbagi kisah
Bukannya terlalu sibuk, sehingga tak sempat untuk menulis.

tapi beberapa waktu yang telah terlewati,
aku sedang menata diri,
agar tulisan-tulisan ini lebih memiliki arti.




»»  Read More...

26 Juli 2013

Tips-Tips Sebelum Membeli Rumah Minimalis

Diposting oleh Ayu Wulandini di 26.7.13 1 komentar

Mempunyai sebuah rumah impian merupakan tujuan dan mimpi dari semua orang, termasuk saya. Saya sejak muda sangat ingin memiliki sebuah rumah minimalis, oleh karena itu saya bertekad untuk giat menabung dan saya berharap tidak lewat umur 35 tahun sudah bisa memiliki sebuah rumah sendiri meskipun yang masih sederhana.

Sebagai anak muda, saya mempunyai semangat yang tinggi disertai tekad dan semangat anak muda yang meluap-luap, karena saya yakin dengan memiliki impian dan tekad yang besar, maka suatu hari nanti pasti dapat membeli rumah sendiri.
Nah, berikut adalah beberapa kiat untuk Anda yang ingin membeli rumah sendiri seperti dikutip dari Desain Rumah Minimalis


1. Perhitungkan Jumlah Dana. Jadi, misalnya Anda sudah memiliki uang Rp100 juta, saya sarankan agar tidak usah terlampau memaksa membeli rumah yang sempit (seperti rumah tipe 21. Karena di kemudian hari Anda akan merasa menyesal ketika ada penambahan jumlah anggota keluarga.Lebih baik anda mengumpulkan uang sedikit lagi untuk membeli rumah yang lebih luas (seperti rumah tipe 36). Mengapa saya bilang demikian? Karena jika anda terburu-buru ingin memiliki sebuah rumah (meskipun sempit), maka suatu hari nanti ada penambahan jumlah anggota keluarga, anda akan mengeluarkan uang tambahan sebagai biaya renovasi, dan tentunya ini sangat tidak efektif dan cermat.

2. Posisi & Lokasi. Rumah yang bagus adalah rumah yang dekat dengan perkotaan. Mengapa? Karena Pengalaman dalam membeli rumah yang bisa dibilang jauh dari perkotaan akan membuat Anda habis biaya dalam minya, hal ini dikarenakan ketika Andan ingin membeli barang atau mengantar anak ke sekolah membutuhkan perjalanan dan waktu yang jauh. Jadi, sangat baik apabila ingin memilih rumah yang bagus, pilihlah rumah yang dekat dengan perkotaan.

3. Pemilihan furniture. Belilah furniture yang awet dan tahan pakai. Jangan karena anda merasa sudah banyak biaya yang dikeluarkan dalam menyewa arsitektur dan bahan-bahan lainnya, maka anda jadi takut dan ingin lebih hemat dalam pemilihan furniture. Belilah furniture awet dan tahan lama, dengan demikian meskipun beberapa tahun kedepan anda juga tidak perlu khawatir untuk mengganti furniture yang rusak. Furniture yang termasuk awet adalah salah satunya yang terbuat dari kayu jati.

4. Harga Properti. Tips keempat ini cukup penting, karena Anda lebih baik membeli rumah yang lebih murah (tentunya rumah masih termasuk luas) dibandingkan dengan rumah elit yang harganya sudah meroket.

Penulis tamu: Calvin Tedja

»»  Read More...

16 Juni 2013

Empat Hati

Diposting oleh Ayu Wulandini di 16.6.13 1 komentar
Lila terdian. Ia menatap layar facebook nya lekat-lekat. Bibirnya mengerucut. Tampak jelas ia super duper galau. Terpampang sebuah foto di layar laptopnya. Sebuah foto yang diambil kira-kira setahun yang lalu. Ada 3 remaja sedang tertawa bahagia di depan lambang sebuah Institut ternama di kota Bogor. Ketiga remaja itu ialah Aslan,Andi,dan Anwar. Pada saat itu mereka semua masih menjalani masa-masa akhir di SMA. Mereka sedang study tour ke universitas ternama negeri ini.
Lila membaca kembali komentar-komentar yang ada di foto tersebut.
“Kapan ya bisa gini lagi,hahaha eh,gimana kabar lo Aslan?” cetus Andi,memulai pembicaraan.

“Baik,lagi libur nih…lo?” sahut Aslan.

Tiba-tiba Lila merasa ada yang aneh diperutnya saat Gracy tiba-tiba mengomentari.

“Wow,ini foto zaman edan,hahah” tulis Gracy

“Baik Lan,cuma masih rada ga baik hubungannya sama’ jaket kuning’,” Andi membalas Aslan.

“Wow,ada Aslan dan Gracy…hehehe” Anwar mengomentari

“@Andi:’ jaket kunig’ maksudnya?
 @Anwar: eh ada Anwar..” Gracy membalas

“Asik,cieeee…prikitiewww…” Andi menggoda

“ Apaan Ndi?” Gracy sok polos

“Hmm..kapan balikan?”Anwar bertanya frontal

“Apa sih?ga ngerti gue..zzzz” Gracy pura-pura tidak tahu.

“Yaelah,bilang kalian masih saling sayang kan..?” Anwar frontal.
“Prikitiewww..Aslan kok ga komen ya?ahahaha” Andi menggoda.

“ Ah lo Ndi,lu juga masih sayang kan sama jaket kuning?” Anwar kembali beraksi.

Tak ada komentar lagi.
Lila menghela nafas. Oke,mengobrak-ngabrik facebook seseorang kan bukan dosa. Tidak apa-apa juga kan? Lila mengerti sekali apa yang dimaksud dalam obrolan mereka.
***
Aslan tertegun menatap layar laptopnya.
“Ni anak maunya apa sih?” Aslan menggerutu pelan. Ia kesal saat melihat ada notification facebook yang memberitahukan bahwa Gracy mengomentari sebuah foto yang sama dengan yang ia komentari. Aslan terdiam. Ia bimbang antara ingin membalas sapaan dari Andi,teman lamanya atau tidak. Ia enggan sekali berhubungan dengan Gracy,bahkan di dunia maya sekalipun. Jarinya baru mulai mengetik balasan lagi untuk Andi saat Anwar mulai menggodanya.
“Wow,ada Aslan dan Gracy…hehehe” Anwar mengomentari
Aslan buru-buru menjauhkan tangannya dari keyboard. Ia menatap layar dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Aslan gusar.
***
Lila me-refresh facebook nya. Menatap sendu. Ia berharap ada jawaban dari siapapun,jangan menggantung seperti itu saja. Tangannya gatal ingin berkomentar di foto itu. Tapi tidak bisa. Ia galau. Benar-benar kacau.
Lila menatap sendu layar komputernya sambil mengingat-ngingat. Andi ialah mantannya yang paling lama,yang paling ia sayang dan juga paling ia benci. Andi tega berselingkuh dengan mantannya ketika mereka pacaran. Ketika kepergok,Lila tidak bisa memaafkannya. Lulus SMA,mereka tak pernah lagi berhubungan. Bahkan Lila menghapus Andi dari daftar teman facebook nya.
Andi,yang bersumpah bahwa ia tulus menyayangi Lila tidak akan pernah bisa melupakan Lila. Andi berkali-kali meminta maaf,bahkan sambil berlutut memohon agar Lila kembali. Namun apa daya,Lila benar-benar tidak bisa memaafkan Andi yang yang kepergok tengah berpelukan dengan wanita lain saat Lila mendatangi rumahnya. Setahun berlalu. Kini Lila dan Aslan telah berkuliah di Universitas ternama,yang menjadikan jaket kuning sebagai lambang kebesarannya. Sementara Andi dan Gracy berkuliah di Institut ternama di Bogor. Anwar yang berbeda. Ia melanjutkan studi di institusi ternama di bandung.
Lila masih ingat betul ucapan Gracy.
“La,lu jagain Aslan ya..biar gue yang jagain Andi buat lo kalo lo dan Aslan beneran keterima di universitas itu..”
Lila mengangguk. Ia tahu betul betapa Gracy menyayangi Aslan. Hampir tiap detik ia membicarakannya. Aslan begini,Aslan begitu,bahkan kebiasaan Aslan yang paling detail pun Gracy tahu. Lila cuma bisa tersenyum kalau Gracy mulai menceritakan tentang Aslan.
***Andi: jaket kunig maksudnya??
."iperutnya saat Gracy tiba-tiba mengomentari.ersebut.
Aslan mematikan laptopnya. Sekarang semuanya jelas,pikirnya. Ia tak habis piker mengapa Gracy selalu saja mengganggunya. Padahal Aslan telah mencobba berbagai cara agar Gracy tak lagi menyukainya. Mulai dari tidak membalas sms,menghapus foto Gracy dan dirinya di facebook,hingga berpura-pura telah berpacaran dengan gadis lain. Setelah setahun berlalu,ternyata ia masih saja seperti dulu,pikir Aslan. Gracy ialah pacar pertama Aslan sekaligus orang yang benar-benar mengubah hidupnya. Mereka bersahabat dari kelas satu SMA,namun Aslan baru berani menyatakan perasaannya saat kelas 3 SMA. Gracy yang lebih nyaman dengan status sahabat kurang bisa menerima kenyataan itu. Apalagi mereka berbeda agama. Toh,mereka jadian juga walaupun hanya seumur jagung. Empat bulan setelah jadian,Gracy memutuskan hubungan karena ia lebih tertarik dengan pemuda lain. Aslan sedih bukan kepalang. Dan Aslan tambah sedih saat beberapa minggu kemudian Gracy memintanya kembali menjadi pacar,Gracy batu menyadari kesalahnnya. Namun apa dikata,Aslan terlanjur sakit hati.
Lila,ia mengerti benar bahwa Lila ialah teman dekat Gracy saat SMA. Walaupun tak terlalu dekat,namun tetap saja. Aslan mengagumi Lila saat ia telah mengenalnya lebih jauh. Lila yang ceria dan ramah,membuat siapa saja nyaman didekatnya. Lila dan Gracy yang mirip karakternya. Namun entah mengapa,Aslan merasa jauh lebih nyaman saat bersama Lila.
Baru beberapa bulan ini ia mengerti mengapa Andi hampir dibuat gila saat Lila meninggalkannya. Andi yang broken home dan kesepian telah menemukan kebahagiaannya saat menemukan Lila. Hubungan yang kandas karena kekhilafannya sendiri. Aslan terdiam. Oh Lila,pikirnya.  
Butuh waktu lama untuk Aslan untuk melupakan sakit hatinya dan kembali percaya akan cinta. Terutama saat Lila hadir di hidupnya. Ia dibuat gila dan tak peduli akan perasaan Andi,teman seperjuangannya di SMA. Tak mudah memang untuk mendekati Lila. Apalagi dengan dihalang Gracy dan Andi. Aslan tahu ia salah. Namun,apa boleh buat.
Sesungguhnya,ia benar-benar jatuh cinta pada Lila.
***
Lila bingung. Ingin sekali ia berteriak pada Aslan. Mempertanyakan apa sebenarnya perasaan Aslan padanya. Akhir-akhir ini sifat Aslan yang berbeda. Sering mengirim sms,menanyakan kabar,hingga mengajak pulang bareng. Awalnya Lila menolak hal ini,karena ia masih mengingat janjinya untuk Gracy. Beberapa waktu,Lila tak pernah menggubris ajakan Aslan. Ia tak ingin menyakiti Gracy. Ia tahu persis Gracy amat menyayangi Aslan. Terlebih saat suatu malam Gracy meneleponnya sambil menangis. Ia mendapat kabar bahwa Aslan sudah punya kekasih baru. Lila mencoba menenangkan Gracy dan memberinya beberapa nasehat. Hal yang aneh saat keesokan harinya Aslan tak menggubris saat Lila mempertanyakan kebenaran. Terlebih lagi saat Aslan bilang ia masih jomblo. Lila bingung. Namun ia tak begitu menggubris.
Hingga beberapa bulan yang lalu,Lila merasakan keganjilan. Aslan benar-benar berbeda. Ia tak segan menunjukkan perhatian yang lebih. Walaupun mereka jarang sekali bertemu karena berbeda jurusan,namun Lila bisa merasakan keanehannya.
Dan saat ia membaca komentar tadi,saat ada api cemburu menyala ketika melihat Gracy yang kentara masih menyayangi Aslan. Lila menyadari bahwa ia harus memilih.
Ada pesan masuk di handphone nya. Lila kaget. SMS dari Aslan!
“Hai Lila,lagi di rumah ga? Boleh ga gue mampir :) “
Lila punya firasat aneh.
“Hai juga! Sok aja atuh,ahahaha”
Aslan dan Lila memang sering curhat pasca putusnya mereka berdua dengan pasangan mereka masing-masing. Dikarenakan jurusan yang berbeda,mereka jarang bertemu. Lila hanya menganggap Aslan teman sampai akhirnya ia merasakan hal-hal yang teramat ganjil selama sebulan belakangan ini. Termasuk saat ini,ini akan menjadi kali pertama Aslan datang ke rumahnya.
***
Lila terdiam. Firasat anehnya terbukti benar. Ia menghela nafas panjang. Aslan menunggu di depannya.
     “Gue tahu gue salah Lil,tapi gue yakin lo juga punya rasa yang sama” Lila membuang muka. Tak tahan menatap mata Aslan yang penuh harap.
Pelan-pelan Lila mengangkat kepalanya dan menggeleng. Aslan terkesiap.
“Lila..please. Ini ga ada hubungannya dengan masa lalu.”
Lila menatap jauh ke dalam mata Aslan,merasakan ketulusannya. Ia tak bisa…
“Gue ga tega Lan..dia temen gue…” Lila mulai menangis.
Aslan mengambil tissue terdekat untuk Lila. Lila menolak.
“Gue ga bisa bohongin diri gue kalo gue sayang lo,Lil. Apalagi pas tadi gue baca komen…” Aslan belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Lila berdiri.
“Iya,gue jug abaca komentar lo. Ya,gue tahu lo temen Andi juga. Ya,gue tahu gue temen curhatnya Gracy. Ya,gue tahu lo udah benci banget ma Gracy. Ya, gue tahu lo beberapa bulan belakangan terkahir ini deketin gue. Gue yakin lo juga nyadar Andi masih sayang banget sama gue. Ya,gue yakin lo juga tahu gue pura-pura ga nyadar lo deketin gue. GUE TAHU LAN! Dan yang paling gue sesalin dan ga bisa gue hindarin..gue sayang banget sama lo,,,”
Aslan kaget. Terharu campur sedih. Betapa mulia hati Lila,betapa ia rela tersiksa demi dirinya.
“Dan yang harus lo tahu..gue gamau nyakitin Gracy. Sorry banget”
Lila berbalik dan menutup pintu rumahnya. Meninggalkan Aslan dengan hati yang terluka. Luka,terlalu dalam untuk dilukiskan. Betapa cinta merupakan racun dalam persahabatan. Dan Lila membiarkan persahabatan mengalahkan cintanya. 
*******

Bogor,14 Januari 2011 jam 21:54 WIB

Penulis Tamu: Wisa Sudari
»»  Read More...

14 Juni 2013

Jadwal Sidang

Diposting oleh Ayu Wulandini di 14.6.13 0 komentar
13 Juni 2013,
secara mengejutkan, gue pun membawa kabar gembira ke rumah.
Jadwal sidang.

Jadwal sidang gue udah keluar, dua jadwal sekaligus..

Jadwal Sidang KP      : 17 Juni 2013
Jadwal Sidang Skripsi : 24 Juni 2013

Untuk jadwal sidang skripsi ini sendiri masih belum pasti, karena belum tau nih, pengujinya bisa atau enggak, tapi pembimbing sih udah minta tanggal segitu.

Doakan aku ya, semoga lantjar djaja

makasih ya upin ipin


»»  Read More...

11 Juni 2013

Sukses Dunia atau Sukses Akhirat?

Diposting oleh Ayu Wulandini di 11.6.13 0 komentar

Jika disuruh milih,
sukses dunia atau sukses akhirat?
pilih apa?

Karena ini cuma pilihan, please choose one..
Mau sukses dunia atau akhirat?

Yuk, berfikir sejenak.
Akhirat itu merupakan suatu sebab atau suatu akibat?
Emang sih, katanya (lupa darimana), ketika kesukesan akhirat telah tercapai, kesuksesan duniapun akan mengikuti.

Seorang yang sukses akhiratnya, terlihat dari ibadahnya.
misalnya suka berzakat.
Apakah seseorang bisa berzakat kalo dia bukan seseorang yang mampu secara materi?
atau orang yang mengamalkan ilmunya.
Apakah seseorang bisa mengamalkan ilmunya kalo dia bukan seseorang yang cerdas dalam ilmu pengetahuan? 
apakah seseorang bisa membagikan ilmunya jika ia bukan seseorang yang dipercaya banyak orang?
atau orang yang berkurban dan berhaji.
Bukankah tetap membutuhkan banyak materi untuk melakukan hal-hal tersebut?

Kalau dilihat dari beberapa pembahasan di atas, bukankah itu sebenarnya adalah kesuksesan dunia?
Kesuksesan dunia, yang biasanya dilihat dari harta, ilmu dan tahta yang dimiliki oleh seseorang, sebenarnya itu adalah kesuksesan akhirat juga.
Berarti, kesuksesan kita di akhirat nanti itu, merupakan akibat dari kesuksesan kita di dunia sekarang dong ya?

Kalo untuk saat ini, berarti, lebih milih apa?
sukses dunia atau akhirat?

»»  Read More...

10 Juni 2013

Penulis Tamu

Diposting oleh Ayu Wulandini di 10.6.13 0 komentar
Yuk, untuk kalian, ya, kalian.
Siapapun.
Berapapun usianya.
Punya hobi nulis, tapi ga sempet untuk mengurus blog sendiri?
atau punya tulisan, tapi agak ragu/malu untuk publish di blog pribadi?
this is your chance!!

Kalo kalian punya tulisan yang menurut kalian keren, 
trus pengen dipublikasiin di webblog ini,
kalian bisa jadi penulis tamu disini kok.



Caranya:
Email aja tulisan kalian itu ke ayu.wulandini@outlook.com
Ga ada syarat dan ketentuan yang khusus, yang penting ga mengandung SARA loh
Setiap gambar yang mau dimasukin, kasih link nya ya, biar bisa langsung di hyperlink


Untuk setiap tulisan yang kalian kirimin,
akan dipublish dengan nama kalian kok
Bisa juga pake inisial aja, tergantung kalian maunya gimana,
disini cuma mewadahi aja kok, karya itu tetap atas nama kalian

Ditunggu tulisannya ya

»»  Read More...

6 Juni 2013

Surat Imajiner

Diposting oleh Ayu Wulandini di 6.6.13 0 komentar
Suratku ini aku awali dengan kata-kata, 
"Aku sangat merindukanmu, mungkinkah rinduku berbalas?"
Dulu kau sering mendatangi dan menciumku.
Kini, kau tempatkan aku di tempat yang nyaman,
namun itu menyiksaku karena kau jarang bercengkrama denganku.
Kau lebih sibuk berlama-lama dengan iPad dan BB-mu

Aku benar-benar sangat iri dengan iPad dan BB yang kau miliki
Kemana pu kau pergi, mereka selalu kau bawa
Saat di rumah pun kau asyik dan rela berlama-lama dengan mereka berdua
Sementara aku, tetap kau abaikan
Padahal, sibuk di depan iPad dan BB belum tent memberi manfaat dan berpahala

Ketahuilah, saat kau bercengkerama denganku,
setiap hurufku memberi satu kebaikan dan memberikan 10 kali lipat pahala
walau mungkin kau tak tahu maknanya
Bahkan, saat kau terbata-bata berucap, kau justru mendapat dua pahala
Pahala membacaku dan pahala karena kau kesulitan mengucapkannya

Siapa yang berpegang teguh kepadaku, ia tak akan tersesat
Tapi mengapa kau merasa tak bersalah saat jarang menyapaku?
Kau malu bila belum membaca buku atau novel best seller,
tapi mengapa kau tak merasa malu sedikit pun belum selesai membacaku?
Aku ada bukan ntuk kau simpan di lemarimu,
tapi seharusnya kau simpan di hatimu.
Tapi bagaimana mungkin aku bersemayam di haimu,
bila kau jarang membacaku?

Aku dipelajari bukan hanya ketika kau kecil,
tapi seharusnya setiap waktu
Mengapa?
Karena aku ini pedoman hidupmu

Aku bukanlah "mainan" yang hanya kau baca saat kau kecil
Aku ada juga bukan hanya sekadar menjadi maskawin saat kau menikah
Bukan pula hanya untuk kau ingat saat ada kematian di keluargamu

Mengapa hidupmu kacau?
Mengapa kau sering jenuh?
Mengapa hidupmu sering gelisah?
Mengapa kau sering berani berbuat maksiat?
Mengapa kau banyak tak mengerti ketentuan Tuhanmu?
Itu karena kau jarang bercengkrama denganku

Demikianlah suratku untukmu, semoga kau mengerti keluhan dan deritaku
Aku ingin kau manjakan seperti iPad dan BB-mu

Yang rindu padamu,

Kitab Sucimu

Dikutip dari buku ON
karya Jamil Azzaini
»»  Read More...
 

Ayu Wulandini Rezkyal Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez