Tampilkan postingan dengan label campus life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label campus life. Tampilkan semua postingan

8 November 2015

Hello (again)

Diposting oleh Ayu Wulandini di 8.11.15 0 komentar

Huaaa, rasanya udah lamaaaa banget ga nulis disini
dan kenyataannya, emang udah setahun lebih sih ga nulis-nulis lagi disini..

banyak hal yang sudah terlewatkan, ga sempat ditulis disini, karena sempat teralihkan perhatiannya sama medsos yang lain, sebut saja path, hehe
maafkan aku yaa..



walaupun sudah terlewat, gue sebutin deh apa aja yang sempat terjadi selama gue tidak menyentuh blog ini

1. Gue punya 2 ekor kucing, yang sekarang umurnya udah 1 tahun lebih, namanya kunyil dan kusro
2. Gue sempet gagal sidang tesis yang mengakibatkan harus menambah kuliah 1 semester lagi untuk menyelesaikan tesis tersebut
3. Di satu semester tambahan yang tinggal tesis itu, gue Alhamdulillah dapet kerja
4. Gue kerja di Shoetown Indonesia, 3 bulan sebagai Management Trainee, setelah itu, sampai sekarang, in charge di bidang energi
5. Selama MT, gue dapet keluarga baru, mungkin akan ada postingan khusus untuk menceritakan mereka
6. Selama in charge di bidang energi, gue pun berkesempatan untuk ikut ujian sertifikasi manajer energi, dan alhamdulillah lulus.
7. Februari 2015, akhirnya gue wisuda S2, alhamdulillah

Yaa, cukup sekian beberapa resume perjalanan kisah kehidupan gue selama meninggalkan blog ini.
Semoga dengan tulisan ini, bisa menjadi simbolik, kembalinya Ayu di dunia per-blogging-an,hahaha

Selamat menikmati kembali tulisan-tulisan gue yaa..


»»  Read More...

24 Januari 2014

Perubahan pada SIAK NG

Diposting oleh Ayu Wulandini di 24.1.14 0 komentar
Berdasarkan berita yang beredar di sesama mahasiswa, tanggal 24 Januari ini merupakan tanggal pengisian IRS,atau di twitter lebih dikenal dengan #SIAKWar
Namun sayangnnya, hari ini saya dan beberapa rekan sesama Fastrackker pun belum bisa ikut dalam #SIAKWar tersebut. Status pembayaran kami masih Unpaid.


Dan ternyata, terdapat berita mengenai pengisian IRS semester ini dibagi menjadi 2 gelombang. Untuk jalur fastrack, akan mengisi IRS pada tanggal 1-7 Februari nanti.


Jadi kamipun akhirnya menanti hingga tanggal 1 Februari nanti.
»»  Read More...

23 Januari 2014

Perjuangan dalam Berhijab

Diposting oleh Ayu Wulandini di 23.1.14 0 komentar
Apakah kalian orang yang mudah untuk melaksanakan kewajiban berhijab?
Bersyukurlah, karena tidak semua orang bisa menunaikan kewajibannya dengan mudah.


* * *
Seorang sahabatku, sebut saja Mawar.
Seorang yang cukup aktif di berbagai organisasi di kampus, seorang yang cukup mengetahui kemana dirinya harus melangkah dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat-pendapat orang lain yang akan menjatuhkan dirinya.

Kami bersahabat sejak awal perkuliahan dimulai. Ya, walaupun awalnya kami tidak terlalu dekat, dengan seringnya kami bertemu, kami pun menjadi teman yang akrab. Ditambah lagi, kami berada pada lingkaran yang sama, walaupun terkadang dia tak datang melingkar karena organisasi ataupun tugas kuliahnya.

Dia merupakan orang yang tomboy dan cenderung cuek. Ketika awal kami bertemupun, dia belum berhijab. Bahkan hingga kami lulus pun, dia menjadi satu-satunya orang yang belum berhijab dalam lingkaran kami.

Sebagai teman dekatnya, terkadang aku dan teman-teman lainnya, sering memikirkan bagaimana caranya agar ia mau mengenakan hijabnya. Kami sudah beberapa kali mengingatkan, namun dia merupakan orang yang kuat dengan pendiriannya. Saat itu, dia masih merasa amal yang dia perbuat belum cukup baik, sehingga ia belum mau mengenakan hijab.

Berbagai pendekatan pun telah kami lakukan. Namun, karena Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, kamipun akhirnya tinggal berdoa. Kami sudah bingung harus berbuat apa, karena dia terlalu kuat dengan pendiriannya.Hingga akhirnya, kamipun lulus dan kembali ke kota kami masing-masing.

Tak lama setelah kami lulus, aku mengikuti launching buku 'yuk berhijab' oleh felix siauw. Saat itu, aku datang bersama kedua adikku. Karena masing-masing dari kami mendapatkan satu buku, kami akhirnya memiliki 3 buah buku yang sama. Aku ingin memberikan buku tersebut ke Mawar. Aku pun meminta alamat rumahnya dan mengirimkan buku tersebut beserta sepucuk surat ke rumahnya. Aku juga berdoa, semoga ini bisa menjadi salah satu jalan agar Allah memberikan hidayah kepada Mawar.
Sekitar 2 atau 3 bulan setelah aku mengirimkan buku tersebut Mawar menghubungiku via whatsapp.
We, mulai besok gue Insya Allah udah berhijab. Terima kasih ya.
Hanya beberapa kata, namun sangat membuatku senang. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya engkau memberikan petunjuk kepadanya. Semoga dia istiqomah menjalankannya.

* * *
Empat bulan setelah ia berhijab, aku dipertemukan kembali dengannnya pada acara pernikahan sahabat kami. Sambil menunggu acaranya dimulai, kamipun saling bercerita. Hingga akhirnya, dia bercerita tentang proses dia berhijab.

'We, tau ga sih? Awalnya ortu gue ga setuju loh kalo gue berhijab'

'Loh, kenapa?'

'Iya, jadi kan keluarga gue emang ga punya background yang agamis banget. Jadi ya sayang aja kalo gue udah berhijab di usia semuda ini. Bokap gue khawatir kalo ntar gue susah dapet kerja atau gimana-gimana'

'Trus?'

'Ya kan di buku yang lo kasih juga udah dijelasin kalo berhijab itu wajib. Sama kaya sholat 5 waktu, itukan wajib juga. Nah, pas ngomong lagi sama Bokap, gue bilang deh ke bokap gue, "kalo papa ngelarang aku berhijab, itu sama aja papa ngelarang aku sholat, Pa" akhirnya dengan kata kunci kaya gitu, Bokap gue pun akhirnya ngebolehin gue untuk berhijab'

'Begitu akhirnya lo berhijab, bokap lo gimana?'

'Ya, mungkin karena Bokap pun ngeliat gue berhijabnya dengan benar dan ga aneh-aneh kaya diputer-puter atau dililit-lilit gitu. Bokap gue pun akhirnya biasa aja. Ga ngelarang-ngelarang juga, ga komen yang aneh-aneh juga'

'Alhamdulillah deh kalo gitu'

'Eh iya, tau ga, Nyokap gue sempet marah sama lo loh, We?

'Marah sama gue? emang kenapa?'

'Iya, kan lo ngirimin buku itu ke rumah gue. Nyokap gue sempet ngerasa sebel gitu sama lo, kenapa lo ngirimnya ke rumah gue? Nyokap gue ngerasa di-judge kalo dia ga bisa ngajarin anaknya'

'Ya ampun. Gue ga maksud gitu kok, Mawar'

'Iya, We. Gue tau kok. Makanya gue juga udah jelasin ke Nyokap gue kalo lo ga kaya gitu. Akhirnya Nyokap gue udah gapapa kok'

'Kalo sekarang, Nyokap lo gimana?'

'Alhamdulillah, Nyokap gue baik-baik aja. Bahkan sekarang, Nyokap gue udah mulai mengulurkan kerudungnya. Kata nyokap gue, "Masa mama kalah sama anaknya yang kerudungnya nutupin dada gitu". Alhamdulillah,We, perubahan dari diri gue, secara ga langsung mengubah Nyokap gue juga.'

'Wah, hebat tuh'

'Iya, We. Sekarang itu, gue udah ga khawatir lagi kalo mau keluar pake baju apa. Dulu tuh, gue suka mempertimbangkan apa kata orang nanti kalo gue pake baju begini begitu. Sekarang, apapun yang gue pake, karena gue melakukannya karena Allah, ya gue jadi nyantai aja. Terserah deh orang mau bilang gue sok alim atau apapun. Yang penting gue udah melakukan kewajiban gue sebagai seorang Muslimah. Makasih ya, We'

'Sama-sama, Mawar'

Kamipun berpelukan, sebelum akhirnya acara penrikahan sahabat kami dimulai
* * *

Sepulang dari acara itu, aku pun sempat menangis. Entah apa yang sebenarnya aku rasa saat itu, namun air mata itu tetap mengalir. Aku merasa sangat beruntung dan bersyukur memiliki orang tua yang mendukung penuh anaknya untuk berhijab. Aku terharu mendengar cerita perjuangan Mawar agar bisa berhijab. Aku pun bahagia, karena Mawar berhasil menghadapi semua rintangan-rintangan tersebut. Semoga engkau tetap istiqomah ya, Mawar




»»  Read More...

No Pain No Gain

Diposting oleh Ayu Wulandini di 23.1.14 0 komentar
Jika beberapa postingan terdahulu bercerita mengenai beratnya aku menjalani semester 1 pada pendidikan S2 ini. Kali ini, aku akan menceritakan tentang akhir dari semester 1 kemarin.

No Pain No Gain.
Kalimat yang akhirnya membawa aku pada saat ini.
Ketika semester ini akhirnya berakhir
senyum pun ikut terukir

Alhamdulillah, hasil dari semester kemarin, benar-benar jauh di luar ekspektasi.
Nilai terendah semester kemarin adalah B+
Dengan IP yang paling tinggi diantara IP ku saat S1 kemarin.
Melihat nilai-nilai tersebut, aku hanya bisa mengucapkan hamdallah.
Sama sekali tidak pernah mengira akan mendapatkan nilai sebesar itu.
Yaa, walaupun masih ada teman-teman yang nilainya lebih tinggi,
setidaknya perjuanganku semester kemarin akhirnya terbayarkan.

Sekarang, saatnya mempersiapkan diri untuk semester depan.
Karena aku menginginkan nilai yang lebih tinggi dari semester kemarin,
aku harus siap untuk berjuang menjalani semester depan yang lebih berat dari semester kemarin.

»»  Read More...

Kegagalan adalah sukses yang tertunda

Diposting oleh Ayu Wulandini di 23.1.14 0 komentar
Pernah dengar dengan istilah ini?
Saya pernah mendengarnya, bahkan baru saja mengalaminya.

Pada semester kemarin, merupakan waktu untuk menyusun proposal penelitian untuk tesis. Di akhir semester itupun, akhirnya diadakan sidang mengenai proposal tersebut. Beberapa dari teman-temanku ada yang sudah mendapatkan jadwal di akhir desember dan ada pula yang di awal januari. Aku termasuk orang yang mendapatkan jadwal di awal Januari.

10 Januari 2014
Merupakan tanggal sidang proposalku. Entah kenapa, rasanya sidang ini berbeda dengan sidang untuk tesis. Persiapan-persiapannya semua terasa datar. Bahkan saat itu pun, tidak terasa deg-deg-an yang begitu berarti. Semua kujalani dengan cukup santai namun terasa hambar.
Hingga akhirnya, di akhir sidang itu, proposal ku dinilai tidak cukup untuk memenuhi standar penelitian S2 dan bisa dilakukan oleh mahasiswa S1. Aku pun akhirnya diminta untuk memperbaiki proposal tesebut dan melakukan sidang ulang pada tanggal 20 Januari.


Butuh waktu beberapa hari untuk aku menyadari apa yang harus aku perbuat. Apa yang harus segera aku kerjakan, karena tanggal 20 Januari itu tinggal beberapa hari lagi, setelah dipotong weekend dan hari libur.
Dalam beberapa hari itupun, aku sama sekali tidak menyentuh proposal ku yang telah berisi banyak coretan dari para penguji.
Saat itu aku marah, kecewa dan sedih. Aku pun bingung karena aku merasa perlu banyak perombakan yang dilakukan. Saat itupun, orang-orang rumah pun sedang berada pada kesibukannya masing-masing. Hal tersebut semakin menambah kesedihanku karena aku merasa tak memiliki tempat untuk bercerita mengenai keluh kesahku.

Hingga akhirnya, hari minggu malam, aku pun bercerita ke ibuku. Beberapa saran pun juga sudah diberikan, aku pun dibekali persiapan mental hingga akhirnya aku siap untuk melakukan revisi dalam waktu yang cukup singkat.

Selama seminggu, aku pun bolak-balik kampus. Melakukan revisi, bertemu dengan dosen pembimbing, melakukan revisi lagi, hingga akhirnya aku dinilai cukup siap untuk maju sidang lagi.

Ternyata, tanggal 20 merupakan hari tanpa sidang karena ada kegiatan lain. Tanggal sidang diundur jadi tanggal 21 Januari. Tambahan satu hari merupakan waktu yang cukup untuk meyakinkan ku dalam persiapan sidang kedua.

21 Januari 2014
Sidang proposal dalam kesempatan kedua. Ditemani hujan dari malam, kami pun berangkat sangat pagi. Aku ditemani oleh ibu dan adikku. Terlihat seperti anak TK yang baru masuk sekolah, tapi biarlah. Pukul 10.00 aku pun masuk ke dalam ruangan sidang. Ibu dan adikku menunggu di luar ruangan.

Sidang hari itu berjalan cukup lancar, beberapa pertanyaan pun berhasil dijawab. Beberapa pertanyaan yang kurang terjawab pun dibantu oleh dosen pembimbing. Alhamdulillah, semuanya tetap lancar. Alhamdulillah lagi, nilai yang diberikan pun cukup memuaskan.


»»  Read More...

6 Januari 2014

Happy Wedding

Diposting oleh Ayu Wulandini di 6.1.14 1 komentar
5 Januari 2014.
Menjadi tanggal yang sangat spesial untuk sahabatku, Raisa.
Aku turut berbahagia atas kebahagiaanmu, Cha

Gimana rasanya, Whe? Lo kan orang yang paling deket ama Icha
Pertanyaan itu muncul dari salah satu teman kami, di tengah-tengah resepsi pernikahan
Saat itu aku cuma bisa menjawab dengan senyum,
keadaan saat itu terlalu ramai untuk saling berbicara

Begitu sampai di rumah, pertanyaan itu masih berada dipikiranku.
Bagaimana rasanya?

Rasanya semua campur aduk, antara sedih dan haru.
Sedih, karena aku merasa kamu sudah diambil sama Ijul.
Karena aku akhirnya teringat kembali dengan kebersamaan-kebersamaan kita kemarin dan aku khawatir kita akan sulit untuk bertemu lagi.
Haru, karena sahabat dekatku, akhirnya bisa menyempurnakan agamanya,
Karena aku bisa menemanimu hingga ijab qabul itu terjadi.

Persahabatan kita memang unik,
Kita tidak punya banyak persamaan, tapi kita bisa saling mengerti
Kita memang tak selalu bersama, tapi kita tahu kapan kita harus bersama
Bahkan kita pun mengerti, kapan seharusnya kita saling membantu,
kapan kita seharusnya saling menjauh, memberikan ruang untuk menyelesaikan urusan masing-masing

Kemarin, ketika akhirnya dirimu keluar setelah ijab qabul itu terucap,
kau terlihat sangat cantik sekali.

بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير

Selamat ya, Cha atas pernikahanmu.
Semoga kamu selalu bahagia bersama Ijul.

Ini beberapa dokumentasi di hari bahagiamu kemarin, Cha











»»  Read More...

29 Desember 2013

Enelis A105

Diposting oleh Ayu Wulandini di 29.12.13 0 komentar
Enelis A105 merupakan salah satu lokasi paling nyaman yang pernah aku tempati.
Berawal dari meningkatnya tuntutan akademis, membuat aku harus kembali ngekos di dekat kampus.
Pilihan itupun jatuh kepada Enelis A105

Kira-kira sebulan aku disana.
Ya, aku cuma ngekos sebulan, cuma sampai UAS semester ini berakhir.

Alhamdulillah banget, tempat ini benar-benar mendukung keberlangsungan akademis ku
Dari penyelesaian tugas besar hingga bab 1-3 tesis.
Tempat yang kurasa cukup strategis untuk 'bertapa'
tidak terlalu jauh dari kampus, dekat dengan berbagai warung
Kondisi udara yang enak, walaupun cukup bising karena banyak kendaraan yang lewat depan kosan

Bapak dan Ibu kos yang ramah
Teman sebelah kamar,yang juga teman dari SMA
Membuat ku benar-benar tambah menikmati tinggal disini.

Sayangnya, aku hanya sebulan disana
ketika UAS semester ini berakhir, beberapa hari kemudian aku pun segera pindah dari tempat ini.

Jika suatu saat kalian butuh tempat kos-kosan dekat dengan teknik UI,
Aku merekomendasikan Enelis sebagai tempat kosan ternyaman

»»  Read More...

Pernah di Bully

Diposting oleh Ayu Wulandini di 29.12.13 0 komentar
Pernah denger orang bicara tentang pem-bully-an?
Pernah ngerasa gimana di-bully?
Tau sakitnya di-bully itu?
AKU PERNAH.

Kalian tau kenapa bully begitu sangat tidak dianjurkan dan sangat tidak keren untuk dilakukan?
Karena itu sangat menyiksa korbannya. Parahnya, bully lebih sering menyakiti mental daripada fisik sang korban itu sendiri.

Pernah dengar berita tentang anak STM yang menyiramkan air keras ke dalam sebuah metromini?
Apakah kalian termasuk orang yang ikut mencibir atau menyalahkan sang anak karena perbuatannya?
Sayangnya, itu merupakan salah satu bentuk bullying juga.

Hampir sama dengan apa yang pernah aku rasakan.
Melakukan sebuah kesalahan, kemudian dicibir dan disalahkan oleh lingkungan sekitar.




DON'T YOU KNOW HOW IT FEELS?
CAN'T YOU JUST SHUT YOUR MOUTH UP AND LET ME FIX MY MISTAKE?
I NEVER ASKING YOUR HELP TO FIX THIS, WHY DON'T YOU JUST SHUT UP?

Rasanya pengeeen banget teriak-teriakin ini ke mereka.
Aku tau kalo aku telah berbuat kesalahan, trus apa hubungannya dengan kalian?
Aku benci dengan tatapan-tatapan yang penuh tuduhan itu
Aku benci dengan langkah kalian yang semakin menjauh
Aku pun semakin tau kalau selama ini pertemanan kita sepalsu itu

Bahkan tindakan kalian pun sempat membuat diri ini ga betah berlama-lama dikelas
Membuat diri ini tak nyaman lagi berada di kampus
Tak nyaman lagi untuk berada di tempat yang dulu bernama "basecamp"
Tak nyaman lagi untuk berpapasan dengan kalian
Parahnya, aku pernah terfikir untuk mengakhiri hidup ini

Jika bukan karena keluargaku,
jika bukan karena beasiswa ini,
aku pasti sudah memutuskan untuk menghentikan kuliah ku
atau bahkan, nyawaku sendiri

Tapi,
aku tetap berterima kasih kepada kalian
aku jadi tahu, siapa sesungguhnya kawan dan lawan
aku jadi tahu, bagaimana seharusnya aku bersikap dengan kalian
aku pun jadi tahu, bagaimana aku harus kembali bangkit ketika sedang terpuruk

Seperti potongan lirik lagu di atas




Terima kasih ya kalian
Semoga tidak ada korban bully kalian selanjutnya
Semoga kalian jadi orang yang lebih baik lagi ya
Semoga kalian tidak menjadi korban bully selanjutnya,
karena belum tentu kalian sanggup untuk jadi korban bully





»»  Read More...

Hate a good thing?

Diposting oleh Ayu Wulandini di 29.12.13 0 komentar

Ini adalah hal yang paling berasa di tahun 2013. Ayat ini pun menjadi pengingat dan penguat diri ini kalo apa yang aku dapatkan ini adalah sesuatu yang baik buatku.

Well, honestly, sampai sekarang pun aku belum terlalu yakin dengan jalan yang aku tempuh, dengan keputusan yang aku ambil. Mungkin ini salah satu cara Allah untuk memberikan petunjuk kepada hambanya yang ga jelas kemana maunya.

Di tahun ini, ada dua hal yang sebenernya tidak benar-benar aku inginkan tapi aku mendapatkannya.
Maaf banget nih, bukannya gamau bersyukur, namun aku ngerasa kalo diri ini tuh belum pantas untuk mendapatkan hal-hal seperti itu.

1. Umroh
Siapa coba yang gamau berangkat umroh, bisa mengunjungi makam Rasul dan ke rumah Allah. Melihat langsung kiblat seluruh umat muslim di dunia. Melihat lokasi-lokasi ketika peradaban islam zaman Rasulullah. Siapa coba yang gamau kesana?

Bukannya aku gamau kesana, namun saat itu, aku ngerasa ini bukan waktu yang pas. Memang sih, dari akhir 2012 pun aku sudah diberitahu untuk berangkat umroh, menemani mami yang pergi umroh. Saat itu, aku sedang menyusun skripsi. Seperti  yang orang tau, masa skripsi seharusnya fokus aja sama skripsinya dan awalnya aku ga mau untuk berangkat umroh.

Namun, setelah pembicaraan panjang, akhirnya aku meninggalkan skripsi ku sejenak dan berangkat umroh.
Sekali lagi, bukannya aku gamau menjalankannya, namun aku merasa waktunya belum pas.

Karena ada yang Maha Mengetahui apa yang baik buatku, aku pun mengikhlaskan diri untuk berangkat kesana. Meyakinkan diri kalo skripsi ku akan baik-baik saja ditinggal sebentar.


2. Fasttrack
Untuk orang-orang yang suka baca postingan di blog ini, pasti udah sering liat keluhan-keluhanku tentang fasttrack ini. Sama seperti hal sebelumnya, bukannya aku gamau bersyukur karena menerima beasiswa ini. Namun aku merasa belum sanggup dan pantas untuk menerima beasiswa ini.

Terkadang aku suka minder sendiri dengan rekan sesama penerima beasiswa ini. Mereka adalah orang-orang yang aktif bertemu dosen, orang-orang yang langganan jadi asisten. Sedangkan aku, ujian jadi asisten di laboratorium aja gagal. Dosen-dosen pun, entah benar-benar mengenalku atau tidak. Intinya sih, aku  ngerasa beda sendiri aja.

Sekali lagi, aku percaya Allah itu Maha Mengetahui. 
Potongan ayat di atas pun membuat aku semakin yakin bahwa hal ini adalah baik bagiku
Mungkin Allah merasa bahwa aku memang pantas mendapatkan hal itu, 
mungkin juga ada pelajaran yang akan Allah berikan dengan adanya hal-hal ini.


Hanya Allah yang tahu.
Aku hanya menjalankan semua sesuai dengan peraturannya
Allah lebih mengetahui apa yang pantas aku dapatkan


»»  Read More...

Every ending is just another beginning

Diposting oleh Ayu Wulandini di 29.12.13 0 komentar
Judul tulisan ini merupakan tulisan yang sering aku temui di sampul buku tulis
Judul ini sepertinya cocok untuk menggambarkan saat ini, akhir 2013 yang akan masuk ke 2014

Postingan selanjutnya akan berisi tentang hal-hal yang mungkin pernah kalian baca dipostingan sebelumnya dan hal-hal yang awalnya belum terungkapkan dan aku putuskan untuk menuliskannya disini.

Semoga kejadian di 2013 bisa membuat aku jadi orang yang lebih baik di 2014 nanti

»»  Read More...

23 Desember 2013

Is This The End?

Diposting oleh Ayu Wulandini di 23.12.13 0 komentar
Udah satu semester setelah wisuda kemarin, ga kerasa ya?
Waktu yang udah terlewati, biasanya emang terasa cepat banget berlalunya,
waktu yang akan datang, biasanya terasa lebih lama kedatangannya.

Ketika awal-awal menjalani perkuliahan pasca sarjana ini, aku ngerasa akan melewati masa yang cukup lama untuk menyelesaikan ini, sesuatu yang awalnya ga terlalu diinginkan.

Namun sesuatu yang dimulai harus diakhiri, aku pun menyegerakan semuanya. Meyakinkan diri untuk menyelesaikan apa yang ada.

Sampai akhirnya, hari ini pun datang.
Hari ketika UAS telah dilewati
Hari ketika deadline pengumpulan draft pun telah dilalui.

Terasa ada beberapa beban yang telah terangkat
Langkah terasa lebih ringan
Senyum pun menjadi lebih lebar

Alhamdulillah, akhirnya semester ini (hampir) selesai
Tinggal menunggu keluarnya jadwal sidang
Menunggu keluarnya nilai-nilai
Hingga akhirnya nanti melanjutkan semester berikutnya


Is this the end?
It's almost end
Let's rock until the end!! 

»»  Read More...

29 November 2013

Syukur++

Diposting oleh Ayu Wulandini di 29.11.13 4 komentar

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kalimat tersebut berkali-kali diulang pada surat Ar-Rahman, surat yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah SWT.

Begitu juga dengan ini:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim:7)

Kedua kalimat tersebut sebenarnya sudah cukup menjadi pemicu kita untuk terus bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan. Sayangnya, tidak semua yang kita dapatkan adalah sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Lantas, bagaimana kita mensyukuri sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan?



Saya adalah seorang mahasiswi UI yang merupakan penerima beasiswa program fasttrack dari DIKTI. Awalnya, saya merupakan ‘pemburu’ beasiswa, karena saya merasa biaya kuliah S1 saya cukup tinggi. Sayangnya, sampai saya mendekati semester 6, tak ada satu beasiswa pun yang berhasil saya dapati.

Hingga akhirnya pada akhir semester 6, ada penawaran beasiswa program fasttrack, yang berarti, jika saya diterima, saya akan melanjutkan kuliah saya pada jenjang S2 pada saat saya masih berada di semester 7 nanti. Sebagai pemburu beasiswa, saya pun memasukkan berkas saya ke beasiswa tersebut. Walaupun sebenarnya, saat itu saya masih ragu akan langsung melanjutkan kuliah atau bekerja dahulu. Namun, saya percaya penuh, diterima atau tidaknya nanti, itu sudah menjadi keputusan terbaik dari Allah.

Semester 7 datang, dan belum ada pengumuman apapun mengenai beasiswa tersebut. Saya pun menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa S1 biasa. Hingga akhirnya, beberapa minggu sebelum UTS, pengumuman tersebut datang. Ternyata saya diterima beasiswa tersebut. Mulut ini langsung segera mengucap hamdallah, menunjukkan rasa syukur atas pengumuman tersebut. Setelah saat itu, saya pun resmi menjadi mahasiswi program fasttrack.



Ternyata, menjadi mahasiswa S2 itu cukup sulit. Itu adalah kesimpulan awal yang saya rasakan setelah benar-benar menjalani perkuliahan S2. Dengan teman yang lebih sedikit, tugas yang semakin menumpuk, tuntutan pemikiran yang harus lebih cerdas, saya hampir merasa tidak sanggup menjalani perkuliahan tersebut. Rasanya baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan skripsi dan diwisuda, saat ini saya sudah diminta untuk mulai mengerjakan tesis.

Saya benar-benar merasakan makna fasttrack tersebut. Semuanya terasa lebih singkat. Saya pun harus berfikir dan bekerja dengan lebih cepat pula. Saya bahkan sempat mempertanyakan mengapa saya diterima. Padahal dibandingkan dengan penerima beasiswa lain, IPK saya sangat pas-pasan. Kemudian saya pun ber-istighfar. Saya khawatir pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya menjadi orang yang kufur nikmat. Na’udzubillah

Saya pun berusaha move ON untuk menjadi orang yang bersyukur. Saya mengingat-ingat semua nikmat yang telah saya dapatkan. Bersyukur karena saya beruntung bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Bersyukur karena saya bisa meringankan beban orang tua saya dengan tidak membayar biaya kuliah di semester 7&8 serta selama pasca sarjana ini.

Sayangnya, iblis pun tau cara menggoda saya. Saya diingatkan pula dengan beban perkuliahan yang berat. Saya diingatkan dengan kebahagiaan-kebahagian rekan-rekan saya yang sudah bekerja dan mendapatkan gaji yang cukup tinggi. Dalam diri ini serasa ada perang batin antara dua kubu.



Ya Allah, kuatkan hamba..


Saya pun mencari cara agar saya bisa teguh dijalan ini dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya teringat dengan kalimat: “Lakukan hal yang kamu cintai atau cintai hal yang kamu lakukan”
Saya merasa saat ini saya belum mencintai hal yang saya lakukan saat ini. Saya belum mencintai aktifitas saya masih mahasiswa dengan segudang tugas dan bermacam target. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mulai belajar mencintai.

Belajar mencintai ternyata tidak mudah. Namun saya pun terus ‘memaksa’ diri saya untuk terus belajar mencintai apa yang saya lakukan. Memulai dengan membiasakan membaca-baca jurnal secara rutin, berdiskusi dengan teman ataupun dosen untuk mendukung tesis saya. Mulai membiasakan mengurangi lagi waktu tidur saya. Mulai membiasakan tidak jajan sembarangan agar badan saya tetap fit. Hingga akhirnya, saya pun benar-benar terbiasa dengan kegiatan-kegiatan tersebut.

Saya akhirnya menjalani kehidupan mahasiswi saya dengan benar-benar bersyukur. Mencintai apa yang saya lakukan dan akhirnya melakukan apa yang saya cintai.

Ternyata, rasa syukur itu tidak cukup hanya dengan berucap syukur. Kita harus belajar mencintai hal tersebut untuk benar-benar mensyukuri apa yang kita dapatkan. Hingga akhirnya kita menjadi orang yang memiliki syukur++

Semoga bermanfaat J


Tulisan ini pernah dikirimkan ke Tulisan Pembaca website Jamil Azzaini namun belum lolos Tim Redaksi
»»  Read More...

14 November 2013

Sulit bukan berarti tak mungkin

Diposting oleh Ayu Wulandini di 14.11.13 0 komentar

Nobody said it was easy,
No one ever said it would be this hard,
Oh, take me back to the start.
(Coldplay-The Scientist)

Potongan lirik tersebut sempat saya temukan pada saat saya sedang menonton serial Glee. Saat itupun saya mendapatkan makna yang cukup dalam dari lirik tersebut.

Sering sekali kita merasa berada dalam keadaan yang sangat sulit, bahkan terkadang kita pun berandai-andai untuk bisa memutar balikkan waktu dan kembali ke beberapa masa sebelum saat ini.

Kita sudah terlalu sering mendengar bahwa hidup itu pasti akan penuh cobaan. Namun, mungkin kita tidak menyangka bahwa cobaan tersebut akan sesulit ini. Percayalah, sesuatu yang sulit, bukan berarti tidak bisa dilalui.

Karena Allah tidak akan memberikan beban yang tidak sanggup dipikul oleh makhluk-Nya, kita sebaiknya lebih bersabar dalam menjalani semuanya.




»»  Read More...

28 Oktober 2013

Terlalu Jenuh

Diposting oleh Ayu Wulandini di 28.10.13 2 komentar
Jika bingung harus berbuat apa
Ketika bingung kemana kaki harus melangkah
Saat bimbang bagaimana mencapai tujuan

Mungkin anda terlalu jenuh
Fikiran yang terlalu jenuh dengan banyaknya rencana yang akhirnya membingungkan
Hati yang terlalu jenuh dengan prasangka yang dibuat sendiri mengenai suatu hal
Serta jiwa yang terlalu penuh dengan keinginan yang sebaiknya dicapai

Ketika anda menyadari bahwa anda sudah jenuh
Tumpahkan lah semuanya
Berbagilah dengan orang-orang kepercayaan anda

Anda pun akan segera menemukan ide-ide baru
Fikiran-fikiran yang semakin jernih
Hati yang lebih lega
Sehingga kaki lebih ringan untuk melangkah


»»  Read More...
 

Ayu Wulandini Rezkyal Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez